Third Refusal

rainy-day-with-coffee-cup-and-window

Third Refusal

 

by ree

 

Casts: CNBLUE’s Lee Jonghyun, Gong Seungyeon  || Genre: romance || Rating: PG-15 || Length: ficlet || Disclaimer: just my imagination

 

 

 

 

“What’s a rainy day without some delicious coffee-flavoured loneliness?”

-Sanober Khan-

 

 

 

***

 

 

 

 

Myeong-dong sore itu tak ubahnya seperti hari-hari sebelumnya dalam dua minggu terakhir. Hujan deras yang biasanya hanya mampir tiga hari sekali kini menambah frekuensi kunjungannya menjadi setiap hari, seperti jadwal latihan tim sepak bola yang sebentar lagi akan menghadapi turnamen nasional. Para pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitarnya seolah sudah hapal bagaimana rutinitas cuaca di awal musim semi seperti ini, jadi tenang-tenang saja melanjutkan perjalanan di bawah guyuran hujan dengan lindungan payung dan jas hujan yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Banyak orang yang menganalogikan hujan sebagai gambaran perasaan yang tidak menyenangkan. Awan hitam yang menutupi cerahnya sinar matahari memberi kesan suram yang seolah dapat menenggelamkan seseorang kedalam jurang kegelapan, ditambah dengan angin dingin yang serasa menembus kulit, menghujam jantung, dan meresap sampai ke sumsum, membungkus seluruh jiwa raga dalam sebuah kerangkeng masif bernama kesedihan. Dan pada akhirnya semua perasaan itu tumpah dalam wujud air mata, yang mirip seperti hujan jika saja langit benar-benar bisa menangis.

Di salah satu sudut kafe kecil yang terletak diantara deretan bangunan di jalan itu, Jonghyun duduk diam. Terpaku. Pikiran-pikiran semacam itu terus berputar-putar dalam otaknya tatkala tetesan air hujan membasahi dinding kaca yang terletak persis di samping tubuhnya─beruntung ia datang lebih awal sehingga bisa duduk nyaman di sofa dan menikmati secangkir macchiato hangat tanpa harus khawatir pakaiannya basah seperti orang-orang di luar sana.

Jonghyun benci hujan. Ia benci mengakui dirinya yang menyetujui analogi hujan yang suram. Hujan bagai menyeretnya kembali ke masa lalu. Ia seolah dipaksa mengingat memori yang tak ingin lagi ia ingat. Lebih tepatnya, ia benci karena terpaksa harus menanggalkan memori itu dari dirinya.

Jonghyun benci hujan. Setidaknya sejak tiga minggu yang lalu. Cuaca yang sama, kafe yang sama, dan posisi duduk yang sama. Ia seolah sengaja menenggelamkan dirinya dalam kehampaan yang tak berdasar, menimbun kebenciannya akan hujan. Kesamaan itu bahkan juga terjadi setahun yang lalu. Bedanya, saat ini pandangan matanya bukan terpaku pada seorang gadis yang berteduh di balik dinding kaca di sampingnya seperti tahun lalu, dan bukan juga terpaku pada seorang gadis lain yang duduk tepat di sofa tempatnya duduk ketika ia sedang berteduh seperti sebulan yang lalu. Kenyataan yang mengerikan, memang, karena dua kejadian itu sama persis dengan hanya dirinya yang berpindah posisi. Namun ia menyadari kedua gadis itu bagaikan berlian dalam kotak kaca; ia bisa mengagumi, memandangi, namun tetap tidak dapat menggenggam seutuhnya.

Jonghyun menyesap macchiato-nya dalam diam. Tampaknya sudah cukup lama ia termangu memandangi jendela ketika menyadari dua siswi SMA yang duduk tidak jauh didepannya berbisik-bisik sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Mungkin kedua gadis itu lega karena yang mereka lihat bukanlah patung atau hantu. Namun Jonghyun tidak peduli. Baginya berbagai pujian karena kulit putih pucatnya yang mulus dan ketampanan yang tidak manusiawi tidak berarti apa-apa dibandingkan kesepian yang melingkupi hatinya.

Ya, ia sendirian. Hari ini, tiga minggu yang lalu, sebulan yang lalu, dan bahkan setahun yang lalu.

“Oh, aku benar-benar tidak mau tahu apa yang terjadi denganmu.”

Jonghyun baru saja melirik arlojinya ketika posisi canvas backpack di sebelahnya tiba-tiba tergantikan oleh sebuah guitar case hitam dengan inisial ‘LJH’ di salah satu sudutnya. Gong Seungyeon, gadis berambut cokelat bergelombang yang saat ini sudah berdiri disampingnya, menepuk-nepuk trench coat merah marunnya yang lembab karena hujan sebelum mendudukkan dirinya di hadapan Jonghyun.

Seungyeon baru akan mengacungkan tangan ke arah pelayan ketika Jonghyun berkata “Sudah kupesankan.” Pria itu selalu tahu menu yang akan dipesan gadis itu; caramel macchiato yang sama sepertinya.

Diam-diam Jonghyun memperhatikan penampilan gadis itu dari atas ke bawah. Seungyeon sengaja tidak membuka trench coat-nya di dalam ruangan, yang berarti gadis itu tidak akan berlama-lama disini. Dan entah kenapa itu membuatnya tidak bersemangat.

“Lain kali jangan tinggalkan gitarmu di kampus.” Keluh Seungyeon, yang masih sibuk menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. Tampaknya payung saja tidak cukup melindungi tubuhnya dari derasnya hujan dan ganasnya angin yang bertiup sore itu.

“Tidak bisa. Tiap hari aku latihan disana.” Jonghyun sebisa mungkin menahan tawanya. Jujur, awalnya ia hanya ingin mengerjai gadis itu, karena ia takut Seungyeon tidak akan mau datang jika tidak ada keperluan mendesak. Hujan deras yang turun di luar perkiraan membuatnya menjadi merasa bersalah.

“Kalau begitu lain kali jangan suruh aku yang membawanya.” Sungut Seungyeon dengan nada final. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa dan membuang pandangannya ke luar jendela. Oh, ia tidak semarah itu sebetulnya, hanya heran dengan kelakukan Jonghyun yang akhir-akhir ini dianggapnya ‘semakin ajaib’.

Seungyeon tidak habis pikir bagaimana seorang Jonghyun yang sangat menghindari keju dan berbagai western food lainnya rela menghabiskan separuh pan besar pizza demi menemaninya yang saat itu bilang sangat menginginkan pizza Margherita; bagaimana Jonghyun bersikeras meminjam mobil ayahnya demi mengantarnya ke bandara saat ia terpaksa harus pergi ke Beijing untuk menjenguk ibunya yang sakit lima hari yang lalu; dan bagaimana Jonghyun rela membolos mata kuliah terakhir hanya untuk menunggunya selesai kuliah dan mengantarkannya pulang. Oke, mungkin ia bisa maklum untuk dua hal pertama, tapi yang terakhir? Ayolah, ia bukan lagi murid Taman Kanak-kanak yang harus diantar-jemput orang tua ke sekolah. Selama hampir empat tahun mereka bersahabat, Jonghyun belum pernah sekalipun melakukan hal semacam itu. Dan rasanya ia tidak terbiasa.

“Sudahlah, Jjong. Jangan terlalu dipikirkan…” celetuk Seungyeon, mengabaikan semua pikiran yang berkelebat dalam benaknya. Rasionya berkesimpulan bahwa mungkin hanya soal waktu sampai ia terbiasa dengan itu semua.

Mungkin pria itu hanya sedang kesepian.

Jonghyun tersenyum kecil. Jjong. Selama ini hanya Seungyeon yang memanggilnya begitu. Dan ia sama sekali tidak keberatan. Ia tahu persis yang dimaksud Seungyeon adalah Yoona dan Tiffany, dua gadis cantik yang sampai tiga minggu yang lalu masih mengisi hati, pikiran, dan hari-harinya. Si Langsing dan si Mata Indah, begitu Seungyeon menyebutnya. Entah ia harus merasa heran atau bersyukur karena mengira Seungyeon akan memberikan julukan yang lebih parah daripada itu.

Namun andai gadis itu tahu, bukan itu yang sejak tadi dipikirkannya. Setidaknya sejak gadis itu datang.“Aku sudah melupakan mereka.” Jawab Jonghyun. Tidak sepenuhnya berbohong. Ia sudah melupakannya, hanya saja hujan membawa memori itu kembali. Karena itulah seperti yang sudah sering dikatakan; ia benci hujan.

Jonghyun tidak tahu dari mana ia harus memulai. Bagaimana ia harus menjelaskan kalau hatinya tak lagi terpaut pada kedua gadis cantik itu. Karena ia baru menyadari dirinya seperti penderita hipermetropi akut; kuman di seberang lautan tampak, namun gajah di pelupuk mata tak tampak. Selama ini ia sibuk berkelana mencari harta karun tanpa tahu bahwa harta yang ia cari ada di depan mata. Singkatnya, ia baru saja membuka hatinya untuk seseorang yang selama ini selalu berada di sisinya. Lebih singkatnya lagi, ia jatuh cinta pada Seungyeon.

Ya, Gong Seungyeon. Gadis yang sedang tersenyum kepada pelayan yang baru saja mengantarkan macchiato pesanannya itu. Sahabatnya. Satu-satunya orang yang selama ini bersedia menjadi diary-nya. Bodohnya, ia baru sadar jika gadis itu jauh lebih baik dibandingkan dua gadis sebelumnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Seungyeon ketika ia terus-terusan bercerita tentang Yoona dan Tiffany─jika gadis itu juga jatuh cinta padanya.

Jonghyun bisa saja mengungkapkan perasaannya sekarang juga. Ia termasuk tipe orang yang akan langsung mengatakan apa yang ia rasakan. Namun ia khawatir Seungyeon tidak bisa menangkap sinyal-sinyal yang ia berikan selama ini, setelah semua yang ia lakukan untuk gadis itu. Ia takut gadis itu merasa terlalu cepat.

Jonghyun kembali meneguk macchiato-nya, berharap cairan kafein itu dapat menjernihkan pikirannya. Lalu kenapa kalau nanti gadis itu belum bisa menerimanya? Ia akan menunggu. Ia akan selalu bersedia menunggu.

Jonghyun baru akan membuka mulutnya ketika tiba-tiba Seungyeon berujar, “Sebenarnya, semua itu salahmu.”

“Tidak ada wanita yang mau melihat kekasihnya melirik wanita lain.”

Jonghyun mendengus samar. Ia tahu Seungyeon sedang membicarakan alasan ia putus dengan mantan pacarnya, Yoona.

“Kuakui aku khilaf saat itu. Tapi kurasa ia masih dalam tahap curiga saat memutuskan untuk meninggalkanku. Semuanya masih bisa dibicarakan baik-baik.” Jonghyun memutuskan untuk menanggapi.

Seungyeon menggeleng dengan tatapan menyayangkan, “Ia sudah tahu, Jonghyun. Ia sudah tahu sejak lama, makanya memutuskan untuk meninggalkanmu.”

Jonghyun terhenyak. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu dari mana Seungyeon bisa mengetahui itu semua. Mungkin insting wanita. Tapi Tiffany benar-benar tidak bisa lepas dari pikirannya saat itu. Si Mata Indah yang ternyata sudah punya kekasih dan sudah bertunangan.

Dan itulah awal dari peristiwa kelam yang terjadi tiga minggu yang lalu.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai terlihat bahagia saat bersama orang lain.” Lanjut Seungyeon.

“Kau… tidak sedang membicarakan diri sendiri kan?”

“Aku sedang membicarakan mantan pacarmu. Anggap saja begitu.”

Jonghyun terdiam sejenak. “Seungyeon-ah, sebenarnya aku─”

“Ah, ada yang ingin kuberikan padamu.” Potong Seungyeon. Entah gadis itu mendengar ucapan Jonghyun barusan atau tidak.

Seungyeon mengeluarkan sesuatu dari dalam sling bag-nya─yang dari warna dan bentuknya langsung membuat Jonghyun merasakan firasat buruk. Sebuah amplop berwarna keperakan yang diselipkan selembar kertas berwarna senada. Dan bersamaan dengan ia membaca sederetan tulisan dalam kertas itu, gemuruh petir dan cahaya kilat menyambar-nyambar.

Undangan pernikahan.

Ia merasa sudah menyatu dengan hujan. Dan semua analoginya yang suram.

Rasanya tak perlu lagi Jonghyun menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Yang pasti jauh lebih parah dibanding saat si Langsing pergi meninggalkannya dan ketika mengetahui bahwa si Mata Indah sudah punya tunangan. Ia berusaha sekeras mungkin bersikap biasa, tapi tak tahu kalau rasanya sesulit ini.

“Acaranya diadakan setelah dia mendapat gelar sarjananya. Empat minggu lagi.” Seungyeon menjelaskan. Tidak perlu sebenarnya, karena sudah jelas-jelas tanggal itu tertulis di kertas. Dan itu malah membuat hati Jonghyun semakin tertohok.

Jonghyun tidak habis pikir seorang idealis seperti Seungyeon mau menuruti keinginan kolot orang tuanya untuk menikah secepatnya. Ia berani bertaruh sepuluh gitar miliknya kalau gadis itu pasti dijodohkan. Namun ia tetap tidak mengerti. Dan rasanya ia tidak akan pernah mengerti.

“Aku sengaja memberitahumu lebih dulu. Karena kau sahabatku.” Jonghyun memperhatikan bagaimana Seungyeon berkata tanpa sedikit pun menatap ke arahnya. Mungkin sebenarnya gadis itu sudah tahu perasaannya, atau ia terpaksa melakukannya.

Seungyeon bangkit dari tempat duduknya sebelum berkata, “Dan soal kata-kataku tadi… Aku sudah melewati itu semua, Jonghyun.”

Butuh beberapa saat bagi Jonghyun untuk mencerna kata-kata Seungyeon sebelum tangannya meraih lengan gadis itu, menahannya untuk pergi.

“Kau mau meninggalkanku? Kau mau membiarkanku sendiri lagi?”

Seungyeon melepaskan lengannya dari cengkeraman Jonghyun, “Sebenarnya, sejak dulu aku tidak benar-benar berada di sisimu. Bagimu.”

“Aku hanya diary-mu, Jonghyun. Dan selamanya begitu.”

Kertas keperakan yang digenggam Jonghyun terlepas seiring dengan langkah Seungyeon yang semakin menjauh. Kali ini ia merasa benar-benar tolol. Ia menyibukkan diri dengan dua berlian dalam etalase kaca yang jelas-jelas tak bisa ia genggam, hingga berlian yang lebih besar dan lebih berkilau di depan matanya terabaikan dan akhirnya menjadi milik orang lain. Selama ini ia tak sadar bahwa perlahan dirinya dan Seungyeon dipisahkan oleh sebuah sekat kaca yang tak kasat mata.

Seungyeon telah pergi. Gadis itu telah terikat, dan tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia seperti berada di pertigaan jalan, dimana tak ada satu pun yang dapat dilewati olehnya.

Ia merasa separuh jiwanya menguap entah kemana.

Setelah tersadar dari lamunannya, Jonghyun kemudian memanggil pelayan; memesan triple shots espresso yang selama ini selalu dihindarinya sebagai pecinta makanan manis. Mungkin ia akan mengalami konstipasi setelahnya, namun ia tidak peduli. Setidaknya tidak akan sepahit perjalanan cintanya selama ini. Bahkan kelamnya langit Myeong-dong sore ini tidak sekelam hatinya yang seolah hancur berkeping-keping, terseret dalam derasnya aliran air hujan, dan terbawa arus di sungai tak berhilir.

Satu lagi memori kelam dalam hidupnya. Di cuaca yang sama, kafe yang sama, dan posisi duduk yang sama.

Ia benar-benar benci hujan.

Jonghyun mengalihkan pandangannya, menatap cukup lama guitar case hitam yang teronggok di sisi lain tubuhnya sebelum ia mengeluarkan secarik kertas dan pensil dari dalam backpack cokelatnya.

Mungkin ia akan menulis lagu saja setelah ini.

 

***

 

 

 

___________________________________________________

Halo, semua! Udah berapa lama ya saya ga ngepost FF? Saking lamanya rasanya kayak seabad. Dan karena itulah saya sengaja langsung post 2 FF dalam sehari, itung-itung buat ngebayar waktu hiatus saya. Meskipun cuma ficlet hehe…

FF ini juga saya buat ga baru. Mungkin udah lebih dari setahun yang lalu cuma tersimpan rapi di folder laptop saya. Pas dibaca lagi kayaknya ga buruk-buruk amat, jadi apa salahnya dipost?

Selain kedua ficlet ini sebenernya masih banyak lagi FF yang belom saya post, bahkan Blue Medley Series udah saya pikirin sampe seri ke-5. Tapi ya gitu, stuck di tengah jalan. Karna ga punya waktu dan kadang ide mandet. Nanti kalo saya udah punya waktu dan mood saya lanjutin lagi. Soal Briar Rose pikiran saya juga udah mulai terbuka buat alur ceritanya. Tapi lagi-lagi nanti ya.

Mungkin setelah ini saya mau hiatus lagi. Mau bersemedi mikirin seminar dan penelitian. Minta doanya biar saya cepet lulus ya. Amiin..

Sampai ketemu di FF selanjutnya🙂

4 thoughts on “Third Refusal

  1. Hoho ini pertama kalinya aku baca ff jongyeon kopel dan langsung sad end huaa 😭😭
    Ffnya keren thor, tata bahasanya udah kaya baca novel aja kkkk. Kayaknya ini pertama kalinya aku baca ff author. Jadi salam kenal ya ☺ xiixi

  2. Aaa ternyata sad end, kirain engga, eh tapi dari judul juga sebenarnya udah ketara sih /emang dasar-_-
    suka sama couple ini, makanya hurt-nya berasa, ya ampun jadi baper gini :’)
    keren deh (Y)

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s