Lost Star (Last Part)

loststar5

Lost Star (Part 5)

Kang Minhyuk,Jung Soojung;Chaptered;Angst.

Rasanya satu hari berjalan begitu lambat, tapi ternyata tidak begitu. Ketika kulihat kalender aku menyadari bahwa aku telah berhasil melewatkan lebih dari satu tahun hidupku sendirian, sejak aku kembali dari Korea.

Semua orang begitu sibuk dengan kehidupan mereka, begitu juga aku. Jadi itu juga memudahkan aku membuat alasan ketika keluargaku bertanya apakah aku akan mengunjungi mereka. Aku sibuk, mungkin lain kali. Meski aku tidak yakin akan ada lain kali.

Sooyeon dan keluarga kecilnya tidak pernah kembali lagi ke Amerika. Mulanya mereka kembali sebentar hanya untuk memberi tahu aku bahwa mereka sudah memantapkan hati akan tinggal selamanya di Korea, di dekat ibuku. Selama tiga bulan mereka di rumah bersamaku, tapi kami jarang bicara. Mereka sibuk mengurus surat kepindahannya. Dan sejak itu aku mulai membiasakan hidup sendirian lagi.

Tapi ada Ron. Dia selalu bersamaku. Terlepas  dari tempat kerja yang sama, dia juga mengunjungiku di luar jam kantor. Kami makan malam bersama, jalan-jalan, nonton bioskop dan lainnya. Semua berjalan begitu saja, hanya ada aku dan Ron. Seolah-olah tidak pernah ada kenangan yang tersisa dari kunjunganku ke Korea tahun lalu.

Lalu Minhyuk… ya, lelaki masa kecilku. Kadang aku memimpikannya, dan hariku menjadi kacau. Ron bertanya-tanya mengapa tapi aku tidak pernah jujur.

Kami sedang makan siang di kantor, aku dan Ron. Aku tidak banyak bicara, itu sudah biasa dan dia tahu perannya dengan baik. Jadi dia memulai banyak cerita padaku.

“Kau sakit?” tanya Ron di tengah-tengah ceritanya, dan aku menggeleng. “Tapi nafsu makanmu semakin berkurang setiap harinya.”

“Hanya… sedang tidak bernafsu.” Aku membuang muka, menatap sekeliling kafetaria dan menemukan gadis jepang sedang menatap kami. Aku memerhatikan wajahnya dan dia membuang muka. Namanya Yuki dan dia baru saja bekerja di sini. Kurasa dia ingin berteman denganku, karena dia pikir akan menyenangkan bila dua orang Asia saling bersahabat.

“Kau juga kelihatan lebih kurus, Soojung.” Ron mulai lagi dan itu sukses merenggut habis nafsu makanku. Panggil saja aku gadis jahat, tapi belakangan ini aku sama sekali tidak berminat mengobrol dengan siapa pun, bahkan dengan pacarku.

Aku mengedikkan bahu, mungkin dia bisa melihat aku mulai bosan dengan topik ini, jadi dia mengubah topik pembicaraan, “Orangtuaku menelepon, tahu tidak?”

Oh sial! “Oh ya?”

“Ya… mereka bilang kapan-kapan akan datang berkunjung.”

Tolong jangan. “Hmmm…”

“Kau tahu maksudku kan Soojung?”

“Oh astaga, sudah saatnya kembali bekerja!” aku seorang pengecut. Aku selalu lari. Aku tahu itu dan aku tidak punya rasa malu untuk mengakuinya.

Aku berdiri, dan meninggalkan meja dengan cepat, hampir terbirit-birit. Ron menyusulku di belakang tapi aku pura-pura tidak tahu. Kami masuk ke dalam lift yang sama, aku terus-terusan melirik jam tangan dan sok sibuk. Ketika pintu lift terbuka dan kami tiba di lantai kerja, Ron menyentuh lembut bahuku, “Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya, ya kan?” lalu dia berlalu.

Aku merasa sangat bersalah, hingga jauh di dalam hatiku aku bisa merasakan perihnya.

Kantor menyelenggarakan pesta dan kami semua datang ke kelab malam beramai-ramai, meski jika boleh aku hanya ingin pulang. Tidur. Tidur. Tidur. Tapi Ron meyakinkanku agar bersikap sopan dengan menghadiri pesta ini.

Aku datang lebih dulu, Ron akan menyusul karena pekerjaannya belum selesai. Begitu datang aku langsung diterpa perasaan aneh. Aku sangat jarang datang ke kelab, terakhir kali ke sini aku…. aku datang bersama dia… lebih dari setahun yang lalu. Rasanya bodoh mengingat-ingat masa lalu, dan agak menyesakkan juga.

Aku segera menuju meja bar, memanggil bartender dan memesan Bir. Ada pria lain yang tak kukenal duduk di sampingku, tersenyum dan sedikit menggoda. Aku mengabaikanya.

“Kau sendirian saja?” tanyanya yang kutahu artinya dia ingin memulai sebuah obrolan denganku. Aku sedang malas. Dan aku selalu menjadi manusia pemalas, jadi aku hanya menatapnya dan mengedikkan bahu malas.

“Mau aku temani minum? Tanyanya lagi, aku tidak menjawab. Ketika birku datang aku menenggaknya cepat-cepat, tanpa sempat menghirup napas. Seakan lupa bahwa tubuhku tidak terlalu menerima alkohol. “Santai saja, jangan terburu-buru. Malam masih panjang.” Pria itu menyentukan tangannya pada bahuku dan aku bergidik ngeri.

“Tolong,” kataku sesopan mungkin, “tapi aku sudah punya pacar.”

Aku kembali memesan bir, dengan ukuran gelas paling besar. Dan menenggaknya lagi hingga tandas. Aku melirik jam tangan, sepuluh menit berlalu dan Ron belum tiba. Kepalaku pusing. Orang-orang sibuk bercakap-cakap di sekelilingku, pria di sampingku terus menatapku seolah-olah ingin menelanku. Tapi aku tidak menghiraukannya.

Aku semakin tidak peduli lagi pada pria itu, pada orang-orang di sekelilingku saat live performer bicara di depan mikrofon, mengatakan bahwa mereka akan memainkan lagu yang sama yang kudengar tahun lalu. Di seoul, di kelab malam, bersama lelaki itu.

“Tolong birnya lagi,” aku hampir berteriak, dan birku datang tak lama setelah itu. Aku menghabiskannya dan memesan lagi, pria di sampingku tertawa melihatku, dia mulai menyentuh rambutku dengan jari-jari besarnya dan aku merasa begitu jijik. Aku minum lagi dan lagi, kepalaku terasa begitu berat. Musik masih memainkan lagu yang sama dan aku mengingat banyak hal. Hal-hal yang terjadi setahun sebelumnya.

Reuni dengan cinta pertama, menghabiskan waktu bersamanya, bertengkar, menangis, berpelukan.

Ibuku, dapurnya, kerinduannya akan ayahku.

Kakakku, anaknya, suaminya. Kebahagiaan mereka yang kadang membuatku iri.

Minhyuk. Minhyuk. Minhyuk.

Aku mencari ke sekeliling namun tidak menemukan tanda-tanda Ron, hanya mendapati gadis Jepang yang sama sedang melihat ke arahku. Mungkin dia lesbi, otakku yang mabuk mulai mengarang banyak hal.

Lagunya hampir habis tapi kenangan terus membanjiriku seperti aku mengalirkan bir melalui tenggorokanku. Pria di sampingku mengatakan hal-hal yang tak dapat kucerna karena aku begitu kacau saat ini. Otakku hampir meledak dan aku ingin berteriak. Tapi aku tidak melakukannya, air mataku melakukan tugasnya. Ia mengalir deras, lebih deras daripada yang pernah kuingat. Aku sesegukan parah dan pria di sampingku mulai kebingungan.

Kemudian aku mendengar suara Ron dan dia terus berkata “Ada apa? Soojung? Soojung?” dia memelukku dan aku membenamkan wajahku di kemejanya, membuatnya begitu basah. Ron mengusap lembut kepalaku, “Sttt… tenanglah,” katanya dan aku mulai melantur. Kubilang padanya pria di sampingku menggodaku dan aku tidak menyukainya, aku mulai meracaukan hal-hal yang sebetulnya tidak terjadi.

Detik berikutnya aku mendengar Ron mulai berdebat dengan pria itu dan situasi begitu menengangkan, kupikir mereka akan saling menonjok satu sama lain. Tapi aku pingsan dan tidak tahu kelanjutannya.

Paginya aku terbangun dengan kepala yang berputar-putar, tapi tetap bisa menyadari bahwa ada orang lain di rumahku. Kuharap itu ibuku atau kakakku, meski aku sudah tahu itu pasti bukan mereka.

“Selamat pagi!” sapa Ron saat aku memasuki dapur, dia tengah membuat sesuatu di atas kompor untuk sarapan kami.

Aku mendorong kursi dan duduk di sana, memerhatikan punggungnya. “Selamat pagi.”

Setelah beberapa menit menunggu dia selesai dengan masakannya, dan menaruhnya di piring kami masing-masing, “Terima kasih,” kataku meski sebetulnya aku merasa masih begitu mabuk hingga tidak mampu menelan apa pun.

Ron tersenyum dan kami mulai makan, meski bisa dikatakan aku hanya menyentuh makananku dengan alat makan.

“Hey,” aku memulai dan dia mendongak. “Maaf untuk yang semalam, aku sangat….” sulit untuk melanjutkan. Karena sejauh yang kuingat aku begitu kacau dan memalukan.

“Tidak apa-apa, mungkin harimu hanya sedang tidak begitu baik,” katanya sopan dan aku tersenyum masam.  “Sebetulnya, Soojung, aku ingin membicarakan sesuatu padamu semalam.”

“Oh.” Aku mulai menegang.

“Kurasa kau sudah bisa menebak. Maksudku aku sudah menyinggungnya beberapa hari yang lalu. Hm… mengenai orangtuaku, mereka kembali menelepon dan mereka akan datang berkunjung minggu depan. Ayah dan ibuku menyebut-nyebut dirimu, kuharap kau bisa datang untuk makan malam bersama keluargaku.”

Perutku semakin mual, aku tahu hari itu akan datang. Aku selalu membayangkannya dulu, dan sudah merencanakan pakaian apa yang akan aku kenakan. Gaun pastel selutut dan sepatu hak tinggi yang selalu terbungkus rapi di bawah ranjangku. Malam itu akan begitu menyenangkan, makan malam dengan calon keluarga barumu. Aku sering tersenyum begitu membayangkannya di kepalaku. Tapi itu sudah lama sekali, sebelum hal-hal yang tak kuduga terjadi.

“Tentu,” aku memberitahu Ron dengan senyum palsu yang sempurna. Dia tampak lega tapi aku mulai gundah.

“Aku sangat tidak sabar menantikan datangnya mereka,” Ron berkata dengan berseri-seri.

Ketika aku berharap bumi berputar dengan sedikit lebih lambat, kenyataan datang lebih cepat daripada itu. Ron mengirim pesan, mengingatkan acara makan malam dengan orangtuanya. Aku mematut diri di depan cermin, melihat ke dalam diriku yang begitu kosong, di dalam rumah kosong ini. Ini tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, tidak ada rona merah di pipiku, tidak ada senyum gugup karena bahagia. Tidak ada kebingungan harus mengenakan apa untuk bertemu mereka.

Seharusnya aku sudah menaiki taksi menuju restoran yang mereka janjikan. Seharusnya aku ada di sana dan mengecup kedua pipi ayah dan ibu Ron dengan senyum lebarku. Tapi alih-alih melakukan itu, aku membuka jendela kamar, memerhatikan suasana malam ini yang sunyi. Meski aku tidak yakin dunia ini sesunyi perkiraanku. Mungkin itu hanya aku dan duniaku yang menyedihkan.

Aku meraih ponsel dan tahu harus menghubungi siapa.

“Halo.”

“Hei, apa kabar?” tanyaku, membayangkan wajah kakakku yang cantik. Mungkin dia sibuk dan aku mengganggunya, tapi aku sangat membutuhkannya.

“Luar biasa, Soojung. Kehidupan di sini seratus kali lebih baik dari yang dibayangkan. Ooops maaf harus mengatakan itu dan membuatmu iri,” katanya riang dan aku ikut tertawa ketika dia tertawa.

“Ibu sehat?”

“Lebih dari sehat, tapi kau tahu kan, dia akan jadi super sehat jika anak bungsunya juga ada di sini.”

Aku tersenyum sedih, “Sampaikan maafku.”

“Sttt… tidak apa-apa, aku hanya bercanda. Kami tahu kau sibuk di sana, kehidupanmu berjalan dan tidak mungkin bisa ditinggalkan jadi, santai sajalah adikku.”

Kemudian kami terus bercakap-cakap untuk waktu yang lama, aku duduk di ambang jendela dan angin menerpa tubuhku. Aku menerka-nerka sebuah kehidupan yang sedang berjalan tanpa aku, di negara lain, di kota lain, tempat yang seringkali menjadi hantu di dalam tidurku.

Saat Sooyeon tengah asyik menceritakan kehidupan sekolah anak perempuannya, aku menyela dengan terburu-buru. “Tahukah kau apa yang harusnya kulakukan malam ini?”

“Apa?”

“Harusnya aku menghadiri makan malam dengan kedua orangtua pacarku, tapi…”

“Sialan Soojung! Apa yang kaulakukan?”

Aku terdiam dan tak bisa menjawab. Apa yang aku lakukan? Apa yang Jung Soojung lakukan?

Pada akhirnya hanya, “Aku tidak tahu.” Jawaban paling aman yang pernah kupunya.

Sooyeon diam, kemudian dia berkata. “Aku tidak pernah mengerti dirimu, tapi mungkin akan lebih mudah bagimu dengan tidak datang ke sana. Namun Soojung, tidak selamanya menghindar itu baik. Cobalah untuk menghadapi apa pun yang kau takutkan, bertanggung jawab Soojung. Untuk hatimu… untuk hidupmu.”

“Aku tahu, aku ini pengecut bukan?” kuharap aku bisa mengatakannya dengan nada lucu, tapi aku malah terisak. Menyedihkan sekali.

“Soojung… Soojung? Kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu,” aku bisa mendengar nada cemasnya.

“Bukan… bukan itu. Aku… aku hanya…” menggantung, aku selalu menggantung banyak hal dalam hidupku.

“Apa?” tanyanya kakakku lembut.

“Aku hanya terlalu lama menahan air mataku, kurasa ini saat yang tepat untuk mengeluarkannya,” kataku sambil tertawa pelan, merasa lucu karena pada akhirnya aku bisa jujur. Meski hanya satu hal.

“Oh,” Sooyeon tertawa ramah.

“Ini tidak seperti yang kubayangkan, Sooyeon. Tidak sebahagia yang pernah kuimpikan. Mungkin karena aku sendirian di sini. Tidak ada kau, Ibu dan keluarga kecilmu. Aku tidak terlalu menyukai rasa sepi ini, kalau boleh jujur.”

Untuk waktu yang rasanya hampir selamanya, kakakku akhirnya menjawab, “Maka pulanglah.”

Perlu waktu yang lama untuk merenungkan ajakan Sooyeon. Pulang. Tapi bagaimana jika sesungguhnya aku sudah pulang? Aku di sini, di kota kelahiranku, di rumahku sejak bayi. Aku sudah pulang selama ini.

Tapi bagaimana jika definisi pulang bukanlah menuju tempat namun ketenangan hati?

Aku menghabiskan berhari-hari di rumah, tidak bekerja, telepon di matikan, tidak keluar rumah. Menjadi hantu ditemani dengan hantu di dalam kepalaku. Malam itu aku menemukan Ron meneleponku berkali-kali, mengirim pesan berkali-kali.

Kau di mana?

Ada apa?

Apa semuanya oke?

Soojung?

Kumohon telepon aku.

Soojung.

Kau di rumah?

Tolong.

 

Aku mengabaikan semua panggilan dan pesannya. Aku lari, lagi. Dari tanggung jawab, dari hidupku. Mungkin aku adalah gadis paling pengecut di dunia ini.

Setelah semua panggilan dan pesan yang kuabaikan, Ron berhenti. Berhenti menelepon, berhenti bertanya lewat pesan, berhenti menyiksa dirinya sendiri. Mungkin pada akhirnya dia sadar aku bukanlah gadis yang ada dalam imajinasinya. Aku lemah, kacau dan rumit.  Bukan jenis gadis yang patut untuk dipertahankan.

Pukul dua pagi seseorang menggedor pintu depan dan aku buru-buru bangkit menuju pintu karena kemungkinan besar aku tahu siapa itu.

Ron.

“Ini jam dua pagi,” semburku saat kami bertatap muka. Dia mendahuluiku berjalan ke dapur, mengambil minum untuk dirinya sendiri.

“Kuharap kau mau jujur sejak awal,” katanya dingin, lalu bersandar di meja konter. Aku tidak berani menatap wajahnya.

“Jujur mengenai apa?” mengenai perasaanku yang bahkan aku sendiri tidak mengerti? Atau mengenai kunjunganku tahun lalu ke Seoul?

“Segalanya Soojung. Oke, kita mulai dari makan malam. Seharusnya kau bilang jika tidak ingin datang, seharusnya kau menelepon dan kita bisa membicarakannya lagi.”

“Dan mengatur ulang makan malamnya, maksudmu?”

“Jadi kau benar-benar tidak ingin melakukannya? Kenapa?”

“Entahlah.”

“Tolong Soojung, sekali ini saja. Jujurlah, keluarkan apa yang ada. Tumpahkan segala hal yang hampir membusuk di dalam dirimu itu.”

Aku tertunduk, menatap lantai. Teringat kakakku dan kata-katanya yang membuatku bolos kerja selama berhari-hari. “Dari mana aku harus mulai?”

“Dari mana pun yang kau mau.”

“Jadi… aku mengunjungi Seoul dan semuanya terjadi tidak seperti yang kuharapkan, aku terlibat dalam banyak hal. Masalah keluarga orang lain, contohnya.”

“Siapa?” tanyanya, tapi kemudian dia tahu jawabannya, “Itu pasti Minhyuk, bukan?”

Aku mengangguk lemah, “Kami menghabiskan waktu bersama, kami mengulang masa kecil kami. Dia menceritakan banyak hal tentang hidupnya, kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan sejak kecil dulu. Dia bilang dia menyayangiku meski mungkin itu hanya ungkapan biasa, kami bahkan menangis bersama dan semuanya… entahlah, terlalu sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. Kurasa aku ingin momen itu bertahan.”

“Tapi aku terus-menerus memintamu kembali, ya?”

“Oh Ron… tidak seperti itu.”

Ron tertawa getir, aku bisa membayangkan rasa sedih dihatinya. Dibohongi, dikhianati. “Harusnya aku sadar, tapi kurasa aku selalu menyadari itu. Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku.” Ungkapnya yang membuatku tercengang. “Hanya aku, selalu aku yang berpegang di sini. Karena kau tahu Soojung? Aku begitu tergila-gila padamu, hingga merelakanmu pergi adalah hal paling sulit yang mesti dilakukan. Aku begitu mencintaimu.”

Air mataku meleleh. Aku tidak mampu mengatakan apa pun. Ron kembali bicara, “Ketika kau kembali setahun yang lalu, aku menyadari kau kembali menjadi gadis yang pertama kali kujumpai. Penuh kesedihan. Dan aku selalu tahu siapa yang mampu menorehkan kesedihan sejenis itu padamu. Aku menunggumu bicara, jujur. Tapi kau tidak mengatakannya.

“Lalu kukatakan pada diriku, tidak apa-apa, kau mungkin tidak ingin membicarakan itu dan kita bisa menjadi kita yang dulu. Kau dan aku yang begitu akrab, tapi kau ingat kan, tidak ada lagi Ronald dan Soojung yang dekat.”

“Aku minta maaf, sungguh,” kataku sesegukan. Ron mendekatiku, meraih tanganku dan menggenggamnya, “Dari banyak kesalahan yang ada di sini, hanya kesalahanku yang boleh diberi ganjaran.”

“Apa maksudmu?” tanyaku, mendongak dan menemukan samudera di rongga matanya. Aku ingat aku selalu mencintai mata itu. Dulu sekali.

“Selama ini aku selalu berpura-pura, bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Tapi aku tahu tentangmu lebih dari yang bisa kaubayangkan. Dan aku tahu, Soojung, harusnya aku melepaskanmu sejak lama.” Dia memejamkan matanya, mencium tanganku berkali-kali, detik-detik berlalu dan air mata membanjiri pipinya. Bintik-bintik di wajahnya menarik perhatianku, satu hal lagi yang begitu kucintai darinya. Tapi dia bilang… melepasku?

“Ron…”

“Sungguh Soojung, aku akan melakukannya. Agar kau bisa bebas, menjadi dirimu yang mungkin masih kau cari. Barangkali dengan begitu kau akan bahagia, pada akhirnya.”

“Oh Ron…” aku kembali menangis dan waktu seakan berhenti. Hanya ada kami, sepasang kekasih yang menghadapi perpisahan, di dapur besar penuh dengan kenangan tentang kami berdua. Dan luka baru mulai menggores hatiku. Akan ada banyak luka di sana.

Dihapusnya air matanya sendiri, lalu air mataku. Jemarinya adalah benda terlembut yang akan selalu kurindukan. “Sekarang, apa yang kau inginkan?” tanyanya, ada kemantapan di dalam suaranya, di dalam matanya.

“Aku ingin pulang,” jawabku yakin. Pada akhirnya aku mengerti bahwa rumah bukanlah sebuah tempat. Rumah adalah tempat di mana kita bisa merasa pulang. Keluargaku.

Ron tersenyum tulus, dikecupnya keningku dan disatukannya kening kami bersamaan. Waktu tetap berhenti seperti tadi. Hanya ada aku bersama lelaki paling sempurna dan rencana masa depan.

Keesokan paginya kami sudah di bandara dan aku memegang tiket keberangkatanku. Aku dan Ron membicarakan banyak hal. Termasuk Minhyuk.

“Jangan pernah menghindar, apalagi lari. “ Ron menggenggam tanganku erat, aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

Ini semua bukan hanya tentang Minhyuk, tapi tentang keluargaku. Hidupku.

Minhyuk adalah bintang, dan jika aku tidak bisa bersamanya, itu adalah sesuatu yang dapat ditoleransi.

Dulu, berbulan-bulan setelah kepulanganku ke Calironia aku menemukan berita di internet bahwa dia berkencan dengan seorang model. Lucu rasanya mengingat bahwa Jungshin bilang gadis-gadis yang dikencani Minhyuk semuanya mirip denganku. Tidak begitu adanya. Tentu saja mereka lebih cantik dan memesona dibandingkan aku.

Apa pun yang terjadi dengan aku dan Minhyuk kelak, aku akan menghadapinya. Entah kami kembali menjadi orang asing atau hanya sebagai teman baik itu tidak masalah. Aku tidak akan lari.

“Semoga perjalananmu menyenangkan,” Ron memelukku dengan begitu erat, “dan semoga akhir bahagia kau dapatkan.” Dia mengecup keningku dan aku memeluknya.

“Sampai Jumpa,” aku melambai padanya.

“Selamat tinggal, Kim Soojung.” Balasnya, dia tahu kemungkinan perjumpaan kembali kami sangat kecil. Dan dia tahu, jauh di dalam hatiku aku tidak punya keinginan untuk kembali ke tempat ini lagi.

Jadi di sinilah aku, di rumah yang terasa jauh lebih akrab daripada rumah yang sudah kutinggali sejak bayi. Bersama keluargaku, merasa lengkap dan damai.

Aku berlari memasuki dapur, semua orang sudah berkumpul di sana, kecuali satu orang.

“Halo semuanya,” sapaku dan mereka menjawab dengan bersemangat.

“Antarkan ini ke kebun ya,” kata ibuku, menyodorkan teko berisi minuman dingin. Aku memasuki kebun ibuku yang ada di samping dapur. Di sana ayah Minhyuk tengah sibuk berurusan dengan tanaman-tanaman ibu yang mulai rusak.

Ketika menyadari keberadaanku dia mendongak dan tersenyum. Ini kali kedua  aku bertemu dengannya sejak seminggu kedatanganku. “Terima kasih.” Ucapnya dengan ramah.

“Oh tidak, aku yang harusnya berterima kasih karena sudah merawat kebun ibuku.”

Kami duduk di kursi kayu tua yang sengaja ibuku letakkan di sana sejak dulu. Masing-masing dari kami memegang gelas air dingin.

“Sudah sepantasnya aku berterima kasih padamu,” dia kembali melanjutkan. “ingat saat kau menyuruhku datang ke tempat memancing? Itu merubah segalanya, menjadi lebih baik.”

“Aku turut senang mendengarnya.”

Aku membayangkan Minhyuk dan ayahnya memancing. Berbicara, saling jujur. Dan seulas senyum muncul di wajahku. Aku senang ketika menyadari bahwa aku juga mampu berbuat dengan benar.

Ketika kami masih berbincang-bincang, sosok yang kutunggu-tunggu muncul. Berjalan dengan senyum lebar dan langkah kaki yang ringan.

“Minhyuk?”

“Coba tebak, siapa ini?” tanyanya dengan lucu, ini adalah pertemuan pertama kami setelah lebih dari satu tahun. “Apakah Ayah keberatan jika aku meminjamnya sebentar?”

“Tentu saja tidak.” Ayahnya hampir tertawa, “Pergi sana,” suruhnya dan aku mengikuti Minhyuk dari belakang, ketika kutolehkan wajah ke belakang, ayahnya mengedipkan sebelah matanya untukku. Tersenyum lebar.

Kami tidak pergi jauh, hanya ke taman kompleks perumahan ibuku. Taman itu sebenarnya untuk anak-anak, ada ayunan, seluncuran dan banyak permainan lainnya. Tapi ini menyenangkan, bisa menilik kembali masa kecilmu yang telah berdebu dimakan waktu.

Kami menaiki ayunan, bersampingan.

“Kupikir aku bermimpi saat ibuku menelepon dan memberitahuku kau ada di Seoul.” Minhyuk mulai berbicara, ayunannya bergoyang-goyang.

“Apa itu artinya kau senang aku ada di sini?” aku menolehkan wajah padanya dan dia tersenyum, “Tentu saja aku senang,” jawabnya.

“Jadi… bagaimana kabarmu?” tanyaku lagi.

“Sangat sibuk, tapi sibuk yang menyenangkan.”

“Waw, aku sedang bicara dengan lelaki yang mencintai kariernya,” kataku agak berseru dan Minhyuk tertawa.

“Bagaimana denganmu?”

“Kau akan terkejut jika kuceritakan apa saja yang terjadi dengan hidupku selama lebih dari setahun ini.”

“Yah… kita bisa menceritakannya nanti. Kuharap kau punya lebih banyak waktu untuk tinggal di sini.”

Kami menendang-nendang pasir di bawah sepatu kami. Lalu aku berkata, “Hei, aku melihat berita di internet. Kau berpacaran dengan seorang model?”

Dia tersenyum, yang sulit untuk diartikan. “Itu sudah lama berlalu. Hubungan itu bertahan hanya sekitar satu bulanan saja.” Katanya, tapi meski begitu aku tidak terlalu suka mendengarnya. Bagaimanapun hubungan itu terjadi setelah kepulanganku.

“Kau tahu… dulu saat aku bertemu Jungshin dia memberitahuku sesuatu. Katanya semua pacarmu terlihat mirip. Ya, mereka semua terlihat begitu mirip denganku. Tapi setelah kulihat fotonya, tidak! Jelas saja mereka lebih cantik dariku.” Aku mengatakannya dengan mudah, seolah-olah tiada beban sama sekali. Ternyata menjadi jujur tidak sesulit itu.

“Oh astaga. Kupikir menyimpan rahasia dengannya dapat dipastikan aman, ternyata…” dia tertawa begitu renyah. “Memang tidak ada yang mirip denganmu, Soojung.”

Tidak ada yang bisa mengucapkan namaku setenang dan semanis Minhyuk. Mungkin ini adalah salah satu alasan aku jatuh cinta padanya.

“Hm…” aku bergumam.

“Mereka agak… payah. Sedangkan kau sangat asyik.”

“Apa maksudnya?”

“Yah… coba dengar ini. Mereka tidak suka jika kuajak duduk di tanah atau atas rumput, karena kau tahulah, pakaian mereka terlalu bagus untuk itu. Ketika aku mencoba romantis dengan mengajaknya melihat bintang-bintang di malam hari, mereka tidak berhenti menguap dan mengeluh betapa lelahnya mereka setelah bekerja seharian.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. “Kurasa tidak ada yang salah dengan mereka. Mungkin melihat bintang-bintang memang membosankan.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku? Tentu saja aku suka kegiatan itu.”

“Nah… jadi tidak apa-apa kan menjadi aneh, selama kita punya keanehan yang  sama.” Ucapnya dan aku merona.

Setelah itu kami mulai membicarakan banyak hal. Tentang pekerjaannya, juga tentang ibunya yang sudah berhenti mengonsumsi obat tidur dan itu sangat melegakan. Lalu datanglah saatnya ketika hal-hal yang tak pernah terucap harus diungkapkan.

“Kenapa dulu kau tidak menguhubungiku? Saat kau kembali ke Korea, kau bahkan tidak pernah mengucapkan selamat tinggal padaku,” aku bicara dengan suara tenang, kuharap hatiku juga  bisa melakukannya selagi menanti jawaban darinya.

“Dulu itu aku masih begitu muda, Soojung. Dan aku tidak sedewasa yang kau perkirakan. Pada faktanya, lelaki lebih lambat tumbuh dewasa daripada perempuan. Tapi kuharap saat itu aku bisa menjadi dewasa, setidaknya untuk saat itu saja.” Minhyuk terkadang menatap pasir di bawah kakinya, namun tidak jarang dia memandang langit biru di atas kepalanya.

“Kupikir karena kita terlalu muda, jadi semuanya tidak berarti apa-apa. Aku kembali ke rumahku, lingkunganku. Berpikir bahwa aku punya teman dan kehidupan lamaku juga akan kembali, tapi tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa kembali sebagaimana ia dulunya. Begitu juga dengan kehidupanku. Teman-temanku menemukan aku terlalu pendiam, pemurung, rumit dan terlalu sulit untuk dipahami. Seharusnya itu bukan masalah karena aku memang seperti itu sejak pertama kali kami berteman. Tapi kau tahu, tidak ada yang sama lagi.

Kemudian aku lulus dari SMA dan menjadi Trainee. Sebelum bertemu Jungshin, aku sering sendirian. Menatap bintang-bintang di malam hari. Itu menyenangkan, namun terasa ada yang kurang. Sendirian itu tidak nyaman, Soojung. Dan aku mulai mengingatmu. Tidak banyak, tapi aku selalu ingat kau selalu menerima aku apa adanya.”

Mendadak aku merasa lemah sekali, aku berkata dengan suara pelan, “Seharusnya kau menelepon, atau mengirim e-mail.”

“Aku tidak menyimpan apa pun dari mu. Aku pergi, begitu saja. Wussss…. ingat?”

Aku terdiam. Kemudian dia melanjutkan, “Jadi seperti itulah. Kau sudah tahukan, aku berkencan dan putus lalu mencari yang baru. Tapi tidak ada yang terasa benar. Aku bahkan tidak pernah mengucap kata cinta pada mereka.”

“Oh.. kau tega sekali Minhyuk,” kataku sedikit bergurau.

“Lalu kau datang lagi ke kehidupanku. Setahun yang lalu, dan perasaan asing yang akrab itu menjalariku. Tapi aku tidak pernah bisa menjadi manusia yang bijaksana dalam hidupku, bahkan sekali saja. Aku tidak menahanmu, aku tidak memberitahumu, betapa aku sangat membutuhkanmu. Dan aku juga terlalu bodoh untuk mengakui bahwa itu semua adalah…” Minhyuk berhenti bicara, matanya menatap mataku, jantungku berdebar kencang dan dia menarik napas lalu mengembuskannya. “Itu semua adalah cinta.”

Air mataku merebak, dan kehangatan yang muncul di hatiku menjalari bagian tubuhku yang lain.

“Tapi kau sudah memilih orang lain, kan Soojung?” tanyanya tampak putus asa.

Aku tidak menjawab, menjadi agak linglung dengan pengakuannya. Ketika aku mulai kembali ke kadaan normal, Minhyuk berdiri dan menepuk-nepuk celananya. “Ini sudah terlalu lama, padahal aku berjanji pada ayahku hanya akan meminjammu sebentar saja. Ayo pulang.”

Kami berjalan pulang beriringan, dalam diam tapi tidak merasa canggung.

“Minhyuk, apakah kau ingat dulu sekali sebelum kau pergi kau berjanji akan membawaku mengunjungi Disneyland di California?”

“Astaga Soojung maafkan aku, tapi aku benar-benar melupakannya.” Wajahnya tampak begitu menyesal.

“Dan tahukah kau, di umurku yang hampir 25 ini aku belum pernah sama sekali menjejakkan kaki di sana. Jadi, maukah kau kapan-kapan membawaku?”

Minhyuk berhenti dan kami berhadapan, “Akan kulakukan apa pun permintaanmu. Ingatlah itu, aku akan melakukan semua yang kau mau, mulai hari ini.”

“Jangan terlalu baik begitu. Kau hanya akan membuatku bingung, dengan apa nantinya aku harus membayar kebaikanmu itu?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana jika kubayar dengan hatiku?” tanyaku sungguh-sungguh, aku bisa merasakan tubuh Minhyuk menjadi begitu kaku.

“Aku terlalu pengecut untuk menghadapi pacarmu, Soojung.”

“Tapi, bagaimana jika aku bukanlah pacar siapa pun lagi?”

Kini wajahnya ikut kaku, aku menarik satu alis dan tersenyum setulus yang kubisa. “Kau serius?”

“Ya.” Balasku.

“Maka, jadilah milikku.” Lalu kami berciuman dalam perjalanan pulang, di tengah musim panas yang menyenangkan.

Aku tidak mampu menyimpan kebahagiaan itu sendirian, maka kuungkapkan semua itu kepada Ron lewat sambungan telepon.

“Aku turut bahagia,” katanya dan aku agak menyesal jujur padanya. Mungkin aku hanya semakin menyakiti hatinya. Tapi kemudian dia berkata bahwa dia ada kencan akhir pekan ini.

“Dengan siapa?” tanyaku antusias.

“Oh…. gadis Jepang itu. Kau tahu dia kan, Yuki.”

Mendadak otakku mengulang semua adegan-adegan kami di kafetaria. Gadis itu terus-menerus melirik ke meja kami. Semula kupikir dia hanya ingin berteman denganku, karena kami satu-satunya Asia di kantor. Dan juga di kelab malam, ketika dia tertangkap basah sedang melihat ke arahku. Selama ini dia tidak pernah tertarik denganku, tapi dengan lelaki yang selalu menemaniku.

“Aku juga ikut senang mendengarnya.”

“Aku gugup, Soojung.”

“Jangan gugup, semua akan baik-baik saja. Dia tidak akan bisa menolak pesonamu.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku pernah menjadi penggemarmu, ingat?”

Ibu Minhyuk berulang tahun dan kami akan malam di restoran untuk merayakannya. Siang sebelumnya Minhyuk datang mengunjungiku di rumah, kami menonton TV bersama dan dia memberiku sesuatu.

“Apa ini?” tanyaku, menatap kotak yang dibungkus kain beludru dia serahkan padaku.

“Bukalah,” katanya dan aku menurut. Kutemukan sebuah kalung berbandul bintang yang sangat cantik di sana, aku tidak bisa menahan rasa terharuku. Lalu Minhyuk memasangkan kalung itu ke leherku dan mengecup keningku.

“Cantik sekali, aku menyukainya. Terima kasih.”

“Pakai ini untuk nanti malam, ya.” Pintanya dan aku mengiyakan.

Pukul tujuh malam Minhyuk menjemputku. Semua orang sudah berangkat setengah jam yang lalu dengan mobil suami Sooyeon.

Ketika tiba di restoran, semuanya sudah berkumpul dan duduk di kursi masing-masing. Ketika menyadari keberadaanku semua orang, keluargaku dan keluarga Minhyuk, berhenti bicara yang membuatku terheran-heran.

Aku bisa melihat Sooyeon membisikkan sesuatu pada anak perempuannya dan wajah Soohee jadi cerah, dia bertepuk tangan melihatku.

“Ada apa?” aku bertanya kepada Minhyuk tapi dia hanya tersenyum. Saat menuju kursiku, ibuku meremas tanganku, matanya berkaca-kaca. Dan Sooyeon berkata, “Selamat,” tanpa bisa kuketahui maksudnya.

Lalu ibu Minhyuk mendatangi aku, “Aku tahu… kaulah orangnya, Jung Soojung.” Dan suaminya tersenyum senang padaku.

Aku tidak bisa bertanya apa pun karena sudah saatnya kami menyantap hidangan makan malamnya. Saat sedang berkutat dengan makananku, Minhyuk berbisik pelan di telingaku. “Mau kuceritakan sesuatu selagi kau makan?”

“Apa?”

“Dulu seorang Ibu yang hanya punya satu anak laki-laki memberitahunya tentang kalungnya yang berharga, katanya “ini kalung dari ayahmu, kelak jika kau punya gadis yang sudah mantap di hatimu aku ingin dia mengenakan kalung ini.” Maka anak laki-laki itu memberikan kalung berbandul bintang itu pada gadis pilihannya.”

Tenggorokanku tercekat, “Kurasa kita bisa melanjutkan cerita ini setelah makan malam.”

Pukul satu pagi Minhyuk menelepon dan mengatakan bahwa dia ada di depan rumahku. “Turunlah, bawa sesuatu untuk dimakan dan selimut,” suruhnya dan aku menuruti.

Ketika aku sudah di luar dia membukakan pintu mobilnya dan kami berdua masuk. “Ada apa?” tanyaku.

“Kurasa kau harus terbiasa dengan kencan mendadak seperti ini mulai sekarang,” katanya sambil membalutkan selimut ke tubuh kami berdua. “Aku baru pulang bekerja dan besok harus bekerja lagi. Tapi aku merindukanmu setengah mati.”

Diam-diam aku mengulum senyum, merasakan buncahan kebahagiaan di dalam hatiku. “’Oke,” ucapku.

Kami memerhatikan langit malam yang dipenuhi bintang dan merasakan kedamaian. Lalu aku menceritakan tentang Ron dan perpisahan kami, lalu kencannya dengan Yuki yang berjalan dengan sukses.

“Dia begitu baik, kuharap dia juga bahagia seperti kita,” kata Minhyuk dan aku juga mengharapkan hal yang sama.

“Minhyuk, setelah kau pergi setiap kali aku menatap bintang, rasanya aku melihatmu, atau melihat diriku sendiri. Kita tersesat, berjauhan dan kesulitan menemukan jalan pulang.”

“Aku adalah bintang yang tersesat,” Minhyuk mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya… aku juga bintang yang tersesat. Rasanya sangat melelahkan, kau tahu, menemukan jalan pulang itu. Aku tidak ingin tersesat dan merasakan lelah itu lagi, maka dari itu Minhyuk, jangan pergi lagi. Karena kau adalah satu-satunya tempat aku kembali pulang.”

Minhyuk menatap wajahku untuk sekian lama dan meraih wajahku dengan tangannya, “Astaga Soojung. Kau itu begitu romantis dan aku semakin jatuh cinta padamu.” Dia mengecup keningku dan tertawa.

Kami menghabiskan malam itu dengan bercerita dan mengenang masa muda kami yang tak mampu kami lewatkan bersama-sama. Dan di malam-malam yang lain kami melakukan hal yang sama lagi dan lagi tanpa pernah merasa bosan. Karena jika bosan itu pasti bukanlah kami.

Aku merasa begitu bersyukur dan penuh dengan kebahagiaan.

//end

maaf ya kawan-kawan updatenya lama, dan maaf juga jika endingnya kurang memuaskan kalian semua. dan terima kasih banyak atas komentar-komentar membangunnya selama ini, semoga kita bisa bertemu di cerita lain yang semoga saja lebih baik kualitasnya. sekali lagi, terima kasih banyak sudah bersabar menunggu tulisan saya, khusunya untuk seri Lost Star ini.

11 thoughts on “Lost Star (Last Part)

  1. akhirnya yg di tunggu tunggu hadir juga.. Ceritanya ttp bagus thor, cm sayang agak kurang feel dan aku ngrrasa ceritanya kecepetan.. well, thank you thor telat memberikan bacaan untukku.. :*

  2. astaga thor, tukang baper macm aku mah nangis baca gini aja juga😥
    suka kok suka, happy ending walau kesannya kecepetan sama pengen ada sequel😀
    see you next your ff thor, gomapta udah temenn malm aku sm ff lost star nya🙂
    paipai *sedih ih kek perpisahan.😥

  3. Thor…. sequel dnk
    Agakk kurang feelnh
    Feel romantisnya
    Trz mreka trkhrny meried ato gmna?
    Stlh merid mh msh idol
    Butuh sequel sma moment yg lbh romantis

  4. sukaaaaa bangettttt endingnya ❤️❤️❤️
    Ron baik banget dan emang disitu perannya pas. Soojung ma ming emang jodoh jd mau jauh jg ujung2nya kesitu #ngayal hehe

    Nice story
    Ditunggu cerita lainnya🙂

  5. eonni daebakkkk
    sedih jga harus salam perpisahan sama ff ini. tapi aku sukaa bangett. kali menurt sbagian orang kurang dapet feelnya, tapi menurut aku udah pas bgt kok. moment romantisnyaa dapet bgt. mungkin bisa kali yaa eonni buat epilognyaa hehehe, seengaknya jelasin kehidupan minhyuk yg udah berubah gak acak acakan lagi wkwkwk atau sekalian momen mereka berdua nikah dan hidup bahagia kayak keluarga kecil sooyeon wkwk secara selama ini soojung suka envy liat keluarga kakaknya hehehe
    tapi pokoknya tetep semangatt eonni, ditunggu yaa ff barunyaa ehehee

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s