Pandora [Chapter 3]

pandora

Pandora [Chapter 3]

 

 

by ree

 

 

 

Casts: CNBLUE’s Kang Minhyuk, Lee Jonghyun, f(x)’s Krystal (Jung Soojung), EXO’s Kai (Kim Jongin) || Genre: AU, crime, mystery, fantasy, romance || Rating: PG-15 || Length: chaptered || Disclaimer: Just my imagination

 

Previous: [Prologue], [1], [2]

 

 

 

***

 

…Pandora was told by Zeus that she should marry Epimetheus…

 

***

 

 

 

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

9.25 PM

“Soojung-ah, hentikan penyelidikanmu.”

Suasana hening untuk beberapa saat. Soojung menatap kedua manik mata Minhyuk tajam. Sudah terlalu lama mereka menghabiskan waktu bersama bagi Soojung untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan pria itu sebenarnya. Rasanya tidak perlu diperjelas lagi jika Minhyuk memang menyembunyikan sesuatu. Dan rasa takut yang tidak mampu disembunyikan dari sorot matanya justru membuat Soojung semakin penasaran.

Sekaligus merasa dikhianati.

“Jadi begitu? Tega sekali kau,” Kedua alis Soojung bertaut. Ia merasa marah. Sangat marah.

“A…apa maksudmu?”

Gadis itu menepis tangan Minhyuk kasar, kemudian tersenyum sinis, “Kalau pada akhirnya kau hanya akan memintaku menghentikan penyelidikan, kau tidak perlu repot pura-pura menyelidiki kasus ini untukku dan menyembunyikan bukti penting. Siapa dia? Teman? Pacar? Aku tidak menyangka loyalitasmu hanya sebatas ini, Tuan Kang.”

“Bukan begitu, Soojung. Kau tidak tahu seberapa bahayanya kasus ini untuk dirimu sendiri. Aku tidak bermaksud—“

“Ternyata kau tahu lebih banyak dari yang kukira,” Soojung menatap Minhyuk nanar. Sebenarnya siapa pria yang ada di hadapannya ini? Minhyuk saat ini seperti bukan Minhyuk yang dikenalnya. Tidak pernah sekalipun seumur hidup ia membayangkan pria yang sangat diandalkannya, yang menjadi partner kepercayaannya selama ini, memintanya untuk menghentikan pekerjaannya—yang berarti sama dengan memintanya berhenti melindungi penduduk kota Seoul dari ancaman pembunuhan.

Dengan cepat Soojung mengambil preparat yang sedang diteliti Minhyuk pada mikroskopnya dan berdiri menjauhi pria itu, “Aku tidak peduli siapa yang sedang kau bela, Minhyuk. Aku akan menemukan pelakunya. Cepat atau lambat. Meskipun itu artinya aku harus bersaing denganmu,” gadis itu kemudian menyambar mantelnya dan membanting pintu, keluar dari bangunan tersebut.

Sepeninggal Soojung, Minhyuk hanya bisa mendengus kesal. Kesal karena ia tidak bisa menjelaskan apapun dan melakukan sesuatu untuk melindungi gadis itu.

“Kau tidak tahu apa yang kau hadapi, Soojung…”

 

***

 

Severance Hospital, Shinchon-dong, Seodaemun-gu, Seoul

2.45 PM

 

“Tolong jaga kerahasiaan data ini, Suster Yoon,” Minhyuk menutup map berisi data hasil pemeriksaan Jonghyun yang baru saja dibacanya dan memberikannya pada wanita muda yang sejak tadi berjalan mengiringinya, “Jangan memberikan detailnya pada siapapun bahkan jika ayahku yang memintanya dan bahkan jika kau diancam. Mengerti?”

“Bahkan dengan nona Jung Soojung?”

Minhyuk menghela napas berat, “Bahkan dengan Soojung.”

“Saya tidak mengerti, Uisanim. Apa hal seperti ini lazim? Maksud saya, bagaimana bisa makhluk seperti itu ada?” Suster Yoon mengutarakan apa yang dipikirkannya semenjak bertemu dengan Jonghyun tadi.

“Itulah yang masih tidak kumengerti. Entah itu kelainan genetik yang sangat langka atau ia… kau tahu, dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang.”

“Dibuat? Maksud Anda?”

“Kurasa kita tidak seharusnya membicarakan hal itu disini, Suster Yoon,” Minhyuk menoleh ke kiri dan kanan, memastikan di lorong tempat mereka berdiri sekarang tidak ada orang yang bisa mendengar percakapan mereka, “Aku akan memanggilmu untuk mendiskusikan hal ini lagi. Nanti, di tempat yang lebih aman.”

Perawat itu mengangguk mengerti.

“Sekarang kau boleh pergi. Jangan lupa, simpan data itu di tempat yang aman,” titah Minhyuk. Perawat itu lagi-lagi mengangguk dan segera berbalik meninggalkan pria itu.

Sepeninggal Suster Yoon, Minhyuk melanjutkan langkah menuju ruangannya yang tinggal beberapa meter lagi. Ia sedikit terkejut begitu membuka pintu, seorang pria berpakaian serba hitam sudah duduk santai di kursi kerjanya. Pria yang sama sekali tidak dikenalnya.

“Oh hai, Kang uisanim. Aku sudah menunggumu sejak tadi,” sapa pria itu. Aura yang ditunjukkannya bertolak belakang dengan nada suaranya. Terasa dingin menusuk.

Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan perlahan mendekati Minhyuk yang masih terpaku di tempatnya. Senyum yang tersungging di bibirnya sama sekali tidak bernilai baik di mata Minhyuk. Apalagi dengan kulit putih pucat dan sorot matanya yang tajam, membuat pria itu memiliki kesan yang sama dengan Jonghyun.

Ya. Sama dengan Jonghyun.

Hanya saja aura mencekam itu terasa lebih nyata.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Minhyuk, berusaha keras menutupi rasa gugupnya. Terlalu lama bergaul dengan Soojung membuatnya cepat menyadari jika kedatangan pria itu ada hubungannya dengan Jonghyun. Dan tidak menutup kemungkinan pria itu juga merupakan jenis makhluk yang sama.

“Wah, wah, kau bahkan tidak bertanya siapa aku.”

“Apa itu penting bagiku?”

“Sudah kuduga kau bukan orang biasa, Kang Minhyuk. Kau dan gadis bernama Jung Soojung itu. Kudengar dia detektif?”

Minhyuk tercekat. Ia tidak menyangka pria di hadapannya ini tahu banyak tentang dirinya dan Soojung.

“Katakan saja apa yang kau inginkan. Jangan coba-coba mendekati Soojung.”

“Santai saja, Kang uisanim. Aku tidak akan mengganggu siapapun,” pria itu mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja kerja Minhyuk dan memainkannya, “Asalkan kalian juga tidak mengganggu kami.”

Minhyuk mengernyit, “Kami?”

“Aku tahu Jonghyun tinggal di apartemenmu selama ini,” pria itu mengalihkan pembicaraan, “Aku tidak bisa memintanya untuk kembali karena ia akan terus kabur. Itu cukup merepotkan, kau tahu? Kami harus selalu menghilangkan ingatannya dan—“

“Tunggu! Jadi kau yang melakukan semua itu pada Jonghyun?”

“Aku tidak mengerti bagian mana yang kau maksud ‘semua itu’ tapi yah… anggap saja begitu.”

Napas Minhyuk memburu. Ia mencoba mencerna semua kata-kata pria itu, namun tingkat kewaspadaan yang meningkat membuatnya sulit berpikir.

“Maka dari itu, Tuan Kang…” Minhyuk mendongak begitu namanya kembali disebut, “Aku memberikanmu kepercayaan untuk membiarkan Jonghyun tinggal denganmu sementara waktu. Dan aku juga memberikanmu kesempatan untuk mencari tahu identitas Jonghyun atau secara teknis… identitas kami. Tentu saja itu hanya untuk keperluan riset pribadi.”

Pria itu kembali memainkan pulpen dalam genggamannya, “Tapi tampaknya apa yang dilakukan teman wanitamu sudah terlalu jauh. Para polisi itu membuatku risih—“

“Tidak akan kubiarkan kau menyakiti Soojung!”

Pria itu tertawa, “Kalau begitu bagaimana kalau kau saja yang menghentikan mereka? Semakin cepat mereka menghentikan penyelidikan itu, semakin singkat kau akan berurusan denganku. Aku tidak setega itu menyakiti wanita secantik Jung Soojung. Aroma darahnya sangat menggiurkan.”

Diam-diam Minhyuk mengepalkan tangannya. Tidak ada pilihan lain. Ia rela melakukan apapun demi melindungi Soojung.

“Kuharap kau bisa menyelesaikannya dengan cepat, karena kalau tidak…” pria itu mengambil secarik kertas dari meja dan menancapkan pulpen yang dipegangnya ke kertas tersebut hingga berlubang, kemudian mengoyaknya menjadi beberapa bagian, “…kau tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi, ‘kan?”

 

***

 

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

4.35 PM

“Lee Jonghyun?”

“Benar, Soojung-ah. Kami sudah menyelidiki datanya. Tapi sepertinya ia sudah lama tidak tinggal di alamat yang ada di data ini. Jadi kami belum bisa mencari tahu keberadaannya,” jelas Park Sunyoung, gadis berambut pendek yang merupakan salah satu anggota tim forensik sekaligus teman dekat Soojung. Gadis itu menyerahkan beberapa lembar kertas berisi hasil pemeriksaan sidik jari dan database kependudukan Lee Jonghyun pada Soojung.

Soojung memperhatikan data itu dengan seksama. Rasanya ia pernah melihat orang bernama Lee Jonghyun itu di suatu tempat.

Soojung terbelalak, “Ah, dia…” ia ingat pernah bertemu dengan Jonghyun di Rumah Sakit ketika hendak menemui Minhyuk. Memang waktu itu Jonghyun terlihat lebih pucat, namun ia yakin mereka adalah orang yang sama.

Gadis itu meringis. Sejauh mana Minhyuk menyembunyikan semua kebenaran ini darinya? Siapa lagi orang yang bisa ia percaya?

“Ia juga pernah masuk ke daftar orang hilang,” lanjut Sunyoung.

“Benarkah?” tanpa membuang waktu Soojung langsung mencari data orang hilang melalui laptopnya. Ternyata apa yang disampaikan Sunyoung benar. Lee Jonghyun sempat masuk ke dalam daftar orang hilang sekitar enam bulan yang lalu. Pelapornya seorang wanita bernama Gong Seungyeon. Karena mengira itu hanya kasus kehilangan biasa, para polisi pun hanya menampung permohonan pencarian tersebut tanpa ada tindakan berarti.

Soojung langsung mencari tahu tempat tinggal Gong Seungyeon. Ia merasa perlu menginterogasi wanita itu dan bertindak cepat sebelum kasus serupa kembali muncul. Entah bagaimana Jonghyun membunuh korban-korbannya dengan adanya dua lubang di leher itu, ia akan mencari tahu nanti.

Eonni, tolong periksa preparat ini,” Soojung menyerahkan sebuah kantong plastik berisi preparat sel mukosa yang direbutnya dari Minhyuk tadi pada Sunyoung, “Jangan tanya dari mana aku mendapatkannya. Aku hanya ingin tahu ada apa sebenarnya dengan preparat itu,” Gadis itu menyambar kertas-kertas di mejanya dan bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Baru beberapa langkah, Sunyoung kembali berujar, “Kuharap kau tidak lupa, Soojung. Sidik jari Lee Jonghyun di jaket korban masih belum bisa menjadi bukti yang cukup untuk memutuskan bahwa dialah pelakunya.”

Soojung menghentikan langkahnya sejenak, “Aku tahu.”

Baru saja Soojung hendak melanjutkan langkahnya, tiba-tiba Jongin masuk dan menempatkan dirinya tepat di hadapan gadis itu, “Soojung, sebaiknya sekarang kau ikut aku. Ayahku ingin—“

“Minggir,” Potong Soojung dingin. Ia sama sekali tidak tertarik mendengar kata-kata Jongin. Baginya, tidak ada yang lebih penting dibandingkan pekerjaannya saat ini. Kasus pembunuhan keji ini harus segera diselesaikan.

 

***

 

Severance Hospital, Shinchon-dong, Seodaemun-gu, Seoul

5.15 PM

Minhyuk tersentak begitu pintu ruang kerjanya menjeblak terbuka. Dilihatnya Soojung, yang tanpa permisi langsung melangkah masuk ke ruangan itu, menatapnya tajam. Gadis itu melemparkan map yang dibawanya ke atas meja, menunjukkan emosinya yang masih belum mereda.

“Lee Jonghyun, ‘kan? Kau kira aku tidak bisa mencari tahu?” tanyanya sinis.

Minhyuk membuka map tersebut dan membaca isinya dengan seksama. Tidak heran jika Soojung bisa mengetahui identitas Jonghyun dengan cepat mengingat pekerjaannya sebagai detektif. Tapi justru inilah yang ia khawatirkan. Ia tahu Soojung tidak akan begitu saja menuruti kata-katanya untuk berhenti menyelidiki kasus itu. Di mata Minhyuk saat ini, semua usaha Soojung untuk mengungkap kasus sama saja dengan mengorbankan dirinya pada pria misterius itu—atau lebih tepatnya pada golongan makhluk bernama vampir itu.

“Soojung-ah, dengar… Ini bukan kasus yang sederhana. Kau tidak bisa menuduh Jonghyun sebagai pelakunya dan—“

“Aku tidak menyangka kau masih membela pria itu setelah semua bukti yang kudapatkan.”

“Kau tidak mengerti, Soojung. Kau tidak tahu ada bahaya yang akan menghantuimu kalau kau meneruskan penyelidikan ini.”

“Bahaya apa?” Soojung meninggikan suaranya, “Kau menyadari kebenaran kasus ini lebih dulu dariku karena Jonghyun temanmu, kau menyembunyikan bukti-bukti agar Jonghyun tidak dituduh bersalah, kau juga menyuruhku berhenti menyelidiki kasus ini untuk melindungi Jonghyun, dan sekarang kau bilang ini berbahaya tapi kau tidak mau menjelaskan! Sebenarnya apa maumu?!”

Melihat mata Soojung yang mulai berkaca-kaca, Minhyuk langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri gadis itu. Pria itu sadar jika Soojung pasti merasa kecewa dengan sikapnya. Namun tidak ada yang bisa ia katakan karena ia sudah berjanji. Soojung tidak tahu bagaimana ia serasa ingin bunuh diri karena hal itu.

Ketika jarak Minhyuk semakin dekat, Soojung melangkah mundur.  Ia tidak ingin pria itu berada lebih dekat lagi, “Aku tidak mengenalmu.”

Minhyuk mendengus, “Kau tidak akan percaya kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Dan kalaupun kau percaya, tidak akan ada orang yang percaya denganmu,” tanpa menghiraukan penolakan Soojung, pria itu terus mendekat dan menempatkan kedua tangannya di bahu gadis itu, “Kumohon, Soojung. Sekali ini saja kau menuruti kata-kataku. Demi keselamatanmu. Kau bisa membuat keterangan palsu untuk menutup kasus ini dan hidup dengan tenang.”

Soojung memandang Minhyuk nanar, “Aku tidak menyangka kau punya pikiran busuk seperti itu,” ditepisnya tangan Minhyuk dan dilangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Sikap yang ditunjukkan Minhyuk membuatnya yakin pria itu bukanlah orang yang patut dipercaya lagi.

“Tunggu, Soojung! Kau mau kemana?”

“Tidak masalah bagiku kalau kau tidak mau membantu. Akan kuselesaikan kasus ini sendiri.”

Minhyuk buru-buru menahan tangan Soojung, “Kau mau mencari Jonghyun?”

Soojung kembali menepis tangan Minhyuk, “Bukan urusanmu.”

“Jonghyun menghilang sejak semalam,” jelas Minhyuk, “Aku tidak bohong. Aku sudah berusaha mencarinya tapi belum berhasil menemukannya.”

 

***

 

“Kau tidak perlu mengikutiku.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri.”

“Benarkah? Mungkin kau keliru antara ‘tidak-bisa-membiarkanku-pergi-sendiri’ dan ‘tidak-bisa-membiarkan-teman-baikmu-yang-sudah-susah-payah-kau-bela-tertangkap’.”

Minhyuk mempercepat langkahnya mendahului Soojung dan menghalangi gadis itu membuka pintu mobilnya, “Jangan seperti ini, Soojung. Kenapa kau tidak percaya padaku?”

“Dari sisi mana aku harus mempercayaimu? Kau tahu rasanya dikhianati?” Soojung tersenyum sinis, “Tentu tidak, karena kau yang melakukannya.”

“Soojung, lihat aku,” Minhyuk menarik tangan gadis itu dan memutar tubuhnya menghadap ke arahnya, “Jonghyun… dia…. Dia bukan manusia.”

“Apa?”

“Dia tidak berada di level yang sama dengan kita. Dan mereka tidak mau kita ikut campur terlalu jauh.”

“Mereka?” Soojung merasa ganjil dengan kata-kata itu.

“Hanya ini yang bisa kukatakan padamu, Soojung. Kumohon, hentikan semua ini.”

Soojung lagi-lagi melepaskan genggaman tangan Minhyuk, “Menarik,” ujarnya sambil memasuki kursi kemudi. Melihat hal itu, Minhyuk buru-buru berjalan memutar dan menempati jok di sebelah gadis itu. Jika ia tidak berhasil menghentikan Soojung, setidaknya ia bisa menemani gadis itu dan memastikannya baik-baik saja.

Sepanjang perjalanan kedua orang itu hanya diam. Minhyuk tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Soojung mau menuruti kata-katanya. Soojung sendiri tidak begitu peduli dengan keberadaan Minhyuk. Diam-diam ia menyusun rencana untuk menemukan Jonghyun dan mengingat-ingat semua bukti yang telah ia dapat.

Di tengah keheningan itu, ponsel Soojung tiba-tiba berdering. Gadis itu langsung menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga, “Yeoboseyo?”

“Soojung-ah, kau dimana? Cepatlah pergi ke Insa-dong. Kasus yang sama terjadi lagi,” Terdengar suara Jongin di seberang.

Soojung terbelalak, “Apa?!” cepat-cepat ia memutuskan sambungan dan menginjakkan kakinya ke pedal gas, menaikkan kecepatan mobilnya.

“Ada apa?” tanya Minhyuk.

“Semua ini gara-gara kau yang terus membela Jonghyun.”

Tidak butuh waktu lama bagi Minhyuk untuk menyadari maksud perkataan Soojung, “Tidak mungkin…”

 

***

 

Insa-dong, Jongno-gu, Seoul

7.30 PM

Sesampainya di tempat kejadian perkara, Soojung langsung menerobos kerumunan polisi dan orang-orang yang mengelilingi korban diikuti Minhyuk. Napasnya tercekat begitu melihat keadaan korban. Sedikit berbeda dengan dua kasus sebelumnya, korban kali ini tampak kurus kering, seolah semua bagian dalam tubuhnya dihisap habis oleh sesuatu. Persamaannya, lagi-lagi korban adalah wanita dan terdapat dua lubang menganga di area lehernya.

“Tunggu. Dihisap?”

“Sudah berapa lama sejak korban ditemukan?” tanya Soojung pada salah satu polisi.

“Sekitar beberapa menit yang lalu.”

“Pasti dia belum jauh,” tanpa pikir panjang Soojung langsung berlari menjauhi kerumunan itu, memeriksa setiap gang yang ada di sekitarnya. Jika kejadiannya benar baru beberapa menit sebelum ia datang, pelakunya pasti belum kabur terlalu jauh. Bagaimana pun juga kali ini ia harus berhasil menemukannya.

“Soojung, tunggu!” Minhyuk buru-buru menyusul Soojung. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu bertemu dengan Jonghyun di saat seperti ini. Di saat pria itu sedang merasa haus akan darah.

Minhyuk terus mengikuti langkah Soojung menyusuri gang yang sepi. Diam-diam ia berharap Jonghyun sudah pergi jauh sehingga gadis itu tidak berhasil menemukannya. Biarlah Soojung terus menganggapnya pengkhianat dan menjauhinya asalkan gadis itu tidak terluka.

Aaaaaaaaaarrrgghhh!!!”

Rupanya harapan Minhyuk tidak terkabul. Suara teriakan wanita hampir pasti menunjukkan keberadaan Jonghyun disana. Cepat-cepat Soojung menghampiri sumber suara itu sambil menyiapkan pistolnya. Sementara Minhyuk berusaha sekuat tenaga mendahulukan langkahnya dari gadis itu, mencegah Jonghyun melihat wajah Soojung lebih dulu.

Apa yang ditakutkan Minhyuk benar terjadi. Di pojok gang sempit dan gelap yang menjadi sumber suara wanita tadi, tampak seorang pria sedang menunduk, menancapkan kedua gigi taringnya di leher wanita tersebut dan menghisap darah yang merembes keluar dari sana. Wanita muda yang menjadi korban itu meronta dan terus berteriak meminta tolong, namun lama-kelamaan suaranya melemah. Tangannya yang menggapai-gapai udara lama-kelamaan mengurus, hingga seolah hanya tersisa kulit dan tulang ketika ia akhirnya tergolek tak berdaya.

Soojung, yang selama beberapa detik tercengang menyaksikan kejadian tersebut, mengacungkan pistolnya dengan tangan bergetar, “Jangan bergerak!”

“Soojung, jangan!”

Jonghyun, yang baru saja selesai memuaskan dahaga pada korban keduanya malam ini, menoleh begitu mencium aroma darah yang lain. Aroma yang jauh lebih menggiurkan. Ia yang tidak bisa mengontrol diri tiap kali merasa haus itu menatap Soojung tajam sambil menyeringai, memamerkan kedua gigi taringnya yang panjang dan mulutnya yang bersimbah darah.

Melihat hal itu, keberanian Soojung sempat runtuh, “Makhluk apa dia sebenarnya??”

Soojung menembakkan peluru pistolnya ke arah Jonghyun. Dua tembakan yang mengenai punggung dan lengan kanannya sempat membuat pria itu ambruk, namun hal itu tidak berlangsung lama. Soojung melihat sendiri bagaimana luka di tubuh Jonghyun berangsur-angsur menghilang dan pria itu kembali berdiri tegak. Jonghyun yang merasa terganggu langsung berlari ke arah gadis itu layaknya seekor predator yang hendak menerkam mangsanya.

Minhyuk yang melihat hal itu langsung berlari ke arah Jonghyun, menghalangi langkah pria itu untuk mendekati Soojung dengan sekuat tenaga, “Soojung, larilah!”

Soojung bergeming. Mana mungkin ia meninggalkan Minhyuk?

“Kau akan mati kalau tetap disini. Sana pergi!”

Karena panik dan takut, Soojung kembali menembakkan pistolnya ke arah Jonghyun, berharap pelurunya bisa melumpuhkan pria itu. Namun yang terjadi tetap sama. Jonghyun malah terlihat lebih ganas dan brutal dari sebelumnya. Minhyuk tampak kewalahan menahan tubuh pria itu, apalagi setelah kuku-kuku Jonghyun yang tajam sempat menggores lengannya.

“Dia mengincarmu, Soojung! Kau tidak mengerti juga?!”

Cengkeraman tangan Minhyuk yang sedikit mengendur ketika berbicara pada Soojung dijadikan kesempatan oleh Jonghyun untuk melepaskan diri dan kembali menyerang gadis itu. Soojung yang hendak berlari rupanya tidak kalah cepat dibandingkan Jonghyun sehingga pria itu berhasil menarik tangan gadis itu dan memojokkan tubuhnya ke dinding.

Minhyuk tidak tinggal diam. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia berlari sambil mengeluarkan suntikan berisi obat bius dosis tinggi dari dalam saku celananya. Sengaja ia menyiapkannya untuk kemungkinan terburuk ketika meninggalkan rumah sakit tadi. Ditancapkannya suntikan itu di leher Jonghyun tepat sebelum pria itu menancapkan gigi taringnya di leher Soojung. Awalnya Minhyuk sempat ragu, namun ternyata efek obat bius itu masih bisa berpengaruh pada Jonghyun. Tubuh pria itu melemas hingga akhirnya tak sadarkan diri.

Soojung, yang sesaat tadi sempat pasrah, tak sanggup membendung air matanya. Sekuat apapun kelihatannya, Soojung tetaplah perempuan yang memiliki kelemahan. Ia belum pernah menghadapi kejadian semacam ini seumur hidupnya dan sepanjang karirnya sebagai seorang detektif. Jujur itu membuatnya sedikit terguncang.

Minhyuk menghampiri Soojung, yang langsung disambut oleh gadis itu dengan pelukan erat. Ia bersyukur mereka berdua masih baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun.

“Maafkan aku…” ujar Soojung lirih. Ia merasa bersalah karena sudah salah sangka pada Minhyuk.

Minhyuk mengusap puncak kepala gadis itu lembut, “Ayo kita kembali. Aku tidak tahu berapa lama efek obat bius itu bisa bertahan di tubuhnya.”

 

***

 

“Pulanglah dengan Jongin. Aku akan mengantar Jonghyun,” ujar Minhyuk begitu ia dan Soojung sudah kembali ke tempat mereka datang tadi, “Kuharap kau tidak keberatan meminjamkan mobilmu dulu.”

“Tidak, aku pulang denganmu,” tolak Soojung. Baginya pulang bersama Jongin terasa lebih mengerikan dibandingkan harus satu mobil dengan vampir.

“Soojung, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu jika berada di satu tempat yang sama dengan Jonghyun.”

Soojung mendengus. Meskipun tidak rela, ia akhirnya mengiyakan. Minhyuk benar. Bagaimana kalau nanti Jonghyun bangun dengan keadaan masih liar dan brutal?

“Bilang saja pada para polisi itu kita berusaha mengejar pelakunya, tapi mereka berhasil kabur. Dan luka-luka ini didapat dari perlawanan si pelaku,” pesan Minhyuk setelah memasukkan Jonghyun ke dalam mobil Soojung.

“Tidak perlu mengajariku,” balas Soojung setengah bergurau. Gadis itu tersenyum samar, “Aku benar-benar minta maaf…”

“Sudahlah. Kita bicarakan itu besok saja.”

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Ah, tidak, hubungi aku jika kalian sudah sampai di apartemen.”

Minhyuk mengangguk, “Pasti.”

Tak lama setelah Minhyuk menempati kursi kemudi, Jongin datang dengan tergopoh-gopoh, “Soojung-ah, kau tidak apa-apa? Siapa pria yang bersama Minhyuk tadi?”

Soojung mendecak dan melengos pergi, “Tidak usah banyak tanya. Cepat antarkan aku pulang.”

 

***

 

Jung Soojung’s House, Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

10.20 PM

 

Soojung berkali-kali menepis tangan Jongin yang berusaha merangkulnya. Ia tidak suka pria itu memaksa untuk mengantarnya ke dalam rumah dan bersikap seolah ia adalah pasien penyakit kronis yang baru saja keluar dari rumah sakit. Ia hanya sedikit terguncang, dan hal itu masih bisa ia atasi sendiri.

“Kau sudah pulang, Soojung?” suara ayahnya terdengar begitu ia memasuki ruang tamu. Diam-diam Soojung mendengus. Tampaknya penghujung hari ini akan terasa semakin melelahkan.

“Memang resiko pekerjaan anggota kepolisian. Jam pulang kerja kadang tidak menentu, apalagi jika sedang ada kasus.”

Soojung menoleh. Ada suara pria selain ayahnya. Dilihatnya seorang pria paruh baya duduk berhadapan dengan ayahnya. Tampaknya pria itu sudah berada cukup lama disana dan sengaja menunggunya pulang.

“Siapa dia?”

“Soojung, ini Tuan Kim. Ayah Jongin,” ayah Soojung seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan anaknya itu.

Dahi Soojung mengerut. Harusnya ia tahu kenapa Jongin memaksa untuk mengantarnya sampai ke dalam rumah. Ia pun menatap tajam pria yang berdiri di sampingnya itu. Jongin hanya mengangkat bahu sambil tersenyum penuh arti.

“Kalian berdua duduklah,” ayah Soojung menepuk kursi kosong di sebelahnya, meminta kedua muda-mudi itu untuk duduk. Soojung, yang ingin harinya cepat berakhir, terpaksa menuruti kata-kata ayahnya meskipun raut wajahnya jelas-jelas menunjukkan rasa tidak suka.

“Melihat Jongin mengantarmu pulang hari ini, Ayah senang karena kalian—“

“Bisakah dipercepat? Aku lelah,” potong Soojung.

Baik ayah Jongin maupun anaknya merasa terkejut melihat sikap Soojung, namun ayah Soojung dapat menutupi emosinya dengan baik dan tersenyum maklum, “Baiklah, Soojung-ie. Begini, kami sedang berdiskusi mengenai tanggal pernikahan kalian. Bagaimana kalau dipercepat saja?”

“Pernikahan??? Ayah sudah gila?!” Soojung tidak bisa menahan emosinya. Seingatnya ia tidak pernah menunjukkan persetujuan atas perjodohan ini, kenapa tiba-tiba muncul kata pernikahan?

“Jaga mulutmu, Soojung!”

“Bisakah kalian hentikan omong kosong ini? Aku tidak tahu apa yang selama ini Jongin ceritakan pada kalian, tapi hubunganku dan Jongin sama sekali tidak dekat. Aku tidak menyukainya. Dan aku ingin memiliki kehidupan dengan pilihan sendiri, bukan diatur oleh orang tua.”

Tanpa mengindahkan kata-kata ayahnya, Soojung langsung pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang perlu ia dengar. Ia kecewa dengan sikap ayahnya yang sama sekali tidak menghargai pendapatnya sebagai seorang anak.

 

***

 

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

10.05 AM

 

Entah karena ingin menghindari Jongin atau memang ingin fokus mencari tahu tentang Jonghyun, hari itu Soojung enggan pergi ke kantor. Sebagai gantinya, ia menyempatkan diri untuk pergi ke markas dan mengamati Jonghyun—yang sudah diborgol dan diikatkan ke tiang—bersama Minhyuk. Sengaja Minhyuk membawa Jonghyun ke tempat itu agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tidak membahayakan orang lain. Letak markas yang sedikit lebih jauh dari rumah-rumah di sekitarnya membuat kekhawatirannya akan Jonghyun yang menyerang orang ketika sedang kumat sedikit berkurang.

“Aku tidak percaya makhluk seperti vampir benar-benar ada,” gumam Soojung, “Tidak sampai kejadian semalam.”

“Jangan diingat-ingat lagi,” sahut Minhyuk, “Dia pasti tidak akan mengingatnya. Kalau dia mendengarmu pasti dia akan merasa sangat bersalah.”

Minhyuk menyodorkan segelas teh hijau pada Soojung, kemudian mendudukkan diri di sebelah gadis itu. Ia sudah menceritakan semuanya, mulai dari pertemuannya dengan Jonghyun hingga detail data pemeriksaannya di rumah sakit. Semuanya, kecuali pertemuannya dengan pria misterius yang ditemuinya tempo hari. Ia takut jika menceritakannya pria itu justru akan mencelakai Soojung.

Soojung sendiri sudah berjanji untuk tidak meneruskan penyelidikan. Ia akan menyusun laporan palsu setelah ini, tapi nanti, jika keingintahuannya akan segala hal tentang Jonghyun sudah terpenuhi. Bagaimana pun juga menurutnya Jonghyun adalah makhluk yang unik.

Gadis itu mendekati Jonghyun dan memeriksa lengan kanannya. Ia ingat betul menembakkan peluru pistolnya di lengan itu semalam, namun di kulitnya sama sekali tidak meninggalkan bekas.

“Kau tidak merasa sakit?” tanyanya hati-hati.

Jonghyun menatap Soojung bingung. Mata kelabunya yang berkilat kini sudah berubah menjadi coklat kembali. Pria itu pun menggeleng.

“Dia vampir. Tidak mempan ditembak dengan peluru biasa,” jelas Minhyuk, “Biasanya Jonghyun tidak seliar itu. Ia hanya mencari satu mangsa dalam satu malam. Itu pun kalau aku lupa atau gagal memberikan kantong darah. Makanya bahaya jika mendekatinya sekarang.”

Mendengar penuturan Minhyuk, Soojung mundur perlahan. Ia takut bau darahnya membuat Jonghyun kehilangan kontrol lagi.

“Jonghyun itu vampir golongan slave, kelas bawah,” Minhyuk melanjutkan penjelasannya setelah Soojung kembali duduk di sampingnya, “Ia bukan vampir darah murni dan ditransformasi oleh vampir kelas atas. Karena bukan darah murni, ia hanya terus merasa haus dan akan menjadi liar jika hasratnya tidak terpenuhi. Terkadang masih ada sisi manusia dari dirinya yang muncul. Ia tidak bisa mengubah orang lain menjadi vampir, hanya menghisap darahnya dan orang itu akan mati.”

“Bagaimana kau bisa tahu sampai sejauh itu?”

“Terkadang aku mencoba mengobrol dan menggali ingatannya. Dan buku.”

Soojung menopangkan dagunya, mencoba berpikir, “Kalau begitu kemungkinan besar dulunya Jonghyun adalah manusia biasa. Kemudian ia menghilang dan voila! Berubah menjadi vampir.”

“Menghilang?”

“Lee Jonghyun pernah masuk ke daftar orang hilang sekitar enam bulan yang lalu,” Soojung menunjukkan file yang ia temukan di kantor kemarin pada Minhyuk, “Ciri-cirinya sama persis dengan Jonghyun. Aku yakin hilangnya Jonghyun ada hubungannya dengan keadaannya sekarang.”

Soojung mengambil foto Seungyeon dan menunjukkannya pada Jonghyun, “Kau mengenal wanita ini?”

Jonghyun mengamati foto itu dengan seksama. Matanya terbelalak. Ia merasa mengenal wanita itu, tapi entah siapa dan dimana. Jonghyun berusaha mengingatnya. Potongan-potongan bayangan masa lalu terus berkelebat di benaknya, timbul-tenggelam seolah ada sesuatu yang menghalangi kenangan itu melekat kembali di ingatan Jonghyun.

Argh!” Jonghyun mengerang. Kepalanya terasa sangat sakit. Cepat-cepat Minhyuk menjauhkan Soojung dari Jonghyun begitu menyadari irisnya berubah warna menjadi kelabu. Jonghyun terus mengerang dan mengepalkan tangannya kuat, seolah merasakan sakit yang teramat sangat.

“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Soojung.

“Entahlah. Kurasa sebagian dirinya mulai mengingat kejadian masa lalu, namun sebagian lagi menolak untuk menerimanya,” Minhyuk berspekulasi. Ia lalu memberanikan diri untuk mendekati Jonghyun, “Jangan dipaksakan, Jonghyun. Tidak apa-apa kalau kau tidak mengingatnya.”

Perlahan-lahan Jonghyun bisa menguasai diri. Rasa sakit di kepalanya berangsur-angsur menghilang dan iris matanya berubah menjadi coklat kembali. Ketiga orang di ruangan itu pun sama-sama menghela napas lega.

“Kurasa kita harus menemui Gong Seungyeon,” gumam Soojung setelah beberapa saat terdiam.

Belum sempat Minhyuk merespon, ponsel Soojung tiba-tiba berdering. Soojung hanya melengos begitu melihat nama yang tertera di layarnya.

“Tidak diangkat?” tanya Minhyuk.

“Malas.”

“Bagaimana kalau ada hal penting?”

“Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi, Minhyuk. Jangan paksa aku.”

Minhyuk mengerjapkan matanya. Kenapa Soojung jadi sangat sensitif soal Jongin? Padahal ia hanya mengajukan pertanyaan biasa.

Soojung meraih remote televisi. Ia butuh pengalih perhatian karena mood-nya seketika menjadi tidak baik. Tidak bisakah Jongin tidak muncul di kehidupannya sehari saja?

“Korban pembunuhan di daerah Gangnam diduga adalah Song Naeil, anak dari Song Jaewon, kepala Rumah Sakit Universitas Seoul. Saat ini polisi sedang melakukan olah TKP dan—“

Baik Soojung maupun Minhyuk terperangah mendengar berita tersebut. Pihak stasiun televisi sempat menampilkan sekilas gambar korban. Keadaan gadis itu tidak jauh berbeda dengan korban-korban sebelumnya. Mirip seperti…

Kedua orang itu sama-sama menoleh ke arah Jonghyun.

“Tidak mungkin…” Soojung menggeleng tidak percaya, “Kau tidak pergi kemana-mana sejak semalam, ‘kan?”

“Tanganku diborgol. Bagaimana aku bisa pergi?” jawab Jonghyun.

“Aku terus menjaganya sejak kejadian kemarin malam. Dia tidak mungkin kabur,” jelas Minhyuk.

Soojung kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi. Ciri-ciri korban sangat mirip dengan empat kasus sebelumnya. Jika bukan Jonghyun yang melakukannya, lalu siapa?

“Apa itu berarti… ada vampir yang lain?”

(to be continued)

____________________________________

Halo!

Huaduh, sudah berapa lama aku ga ngelanjutin FF ini? Lebih dari setahun yang lalu kayaknya. Maaf yaa… Kayaknya yang baca juga udah pada kabur -_-

Semua berawal dari comment salah satu reader yang baru masuk akhir-akhir ini. Setelah aku pikir-pikir kayaknya ga sedikit juga yang berminat baca FF ini dan selalu nanyain mana lanjutannya. Aku baca lagi chapter-chapter sebelumnya dan akhirnya tergerak untuk bikin lanjutannya. Untuk chapter 4 dan seterusnya aku ga janji cepet deh ya… biarkan saja ideku mengalir seperti air hahahahaha *digaplok*

Terima kasih buat comment dan like-nya. Maaf aku ga bisa bales satu per satu tapi selalu aku baca, kok. Sampai ketemu di FF (atau chapter?) selanjutnya🙂

9 thoughts on “Pandora [Chapter 3]

  1. kya~~ ini dia yg ditunggu.. kenapa dirimu lama sekali muncul thor? .-.
    tak apa lah.. yg penting lanjut..

    masih ttp bagus kok thor tulisannya, cm aku jd ngerasa agak kecepetan alurnya atau gimana ya?
    well, semangat nulisnya thor!!

  2. Ini ff uda laaaaaaaaaaaamaaa tak nanti..
    Sebel aku thor kalo ortu yg model bapaknya krys itu main jodoh2in… biarlah hyukstal bahagia 💖

Guest [untuk kamu yang tidak punya acc *cukup masukkan nama & email**email aman*] | [Bisa juga komen melalui acc Twitter & Facebook]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s